KEKUATAN INOVASI DAN KREATIVITAS
SEBAGAI BUDAYAORGANISASI
Pendahuluan
Tidak ada satu perusahaanpun yang tidak mengalami perubahan, cepat atau lambat, perubahan akan dihadapi oleh semua jenis perusahaan. Tiada pilihan lain, kecuali menghadapi perubahan lingkungan tersebut agar perusahaan tetap eksis. Menolak perubahan, berarti mempercepat proses ”kematian suatu perusahaan”. Proses perubahan dapat dilakukan mulai dari kegiatan operasional internal maupun kegiatan operasional eksternal. Oleh karena itu, seharusnya perusahaan telah mulai menyadari pentingnya operasi internal dan lingkungan yang mendorong pengetahuan di dalam suatu perusahaan. Inovasi yang muncul dari karyawan, serta kemampuan untuk menghasilkan dan merangsang kreativitas dan inovasi. Studi ini mendukung fakta bahwa menunjukkan persepsi karyawan pada kultur organisatoris mempunyai dampak terhadap kinerja karyawan pada dimensi kinerja inovasi. Para organisatoris harus mampu menumbuhkan dan mendukung ide kreatif dan inovasi dari para karyawan sehingga hal itu menjadikan budaya organisasi. Namun kreativitas dan inovatif dapat tumbuh dari siapapun dan di level manapun.
Definisi budaya organisasi sangat luas meliputi semua peraturan, kebiasaan, pola pikir, paradigma, kebijaksanaan dan kebiasaan manajerial yang terkadang tidak sifatnya tidak tertulis. Nilai-nilai budaya yang terkandung dalam organisasi harus tetap terjaga dan terpelihara dengan baik oleh seluruh elemen dalam organisasi.
Ada 3 hal yang dapat menjaga agar inovasi terus berlangsung :
1. Inovasi harus fokus pada masalah bisnis.
2. Memperluas pengaruh-pengaruh formal yang memungkinkan individu untuk memperhatikan masalah dari suatu perspektif yang berbeda.
3. Mengkondisikan lingkungan agar individu dapat memikirkan masalah dan dapat mengkaitkan masalah tersebut dengan tepat.
Oleh karena itu seseorang yang creative enterpreneur sangat dibutuhkan untuk memenuhi berbagai perubahan terutama bila kita kaitkan dengan masalah invoasi dengan dunia bisnis seperti yang diungkapkan di atas, yang mampu ”membaca peta” perubahan yang semakin dinamis dan kompleks sehingga mampu mengantisipasi kemungkinan yang akan dihadapi oleh suatu organisasi.
SEBAGAI BUDAYAORGANISASI
Pendahuluan
Tidak ada satu perusahaanpun yang tidak mengalami perubahan, cepat atau lambat, perubahan akan dihadapi oleh semua jenis perusahaan. Tiada pilihan lain, kecuali menghadapi perubahan lingkungan tersebut agar perusahaan tetap eksis. Menolak perubahan, berarti mempercepat proses ”kematian suatu perusahaan”. Proses perubahan dapat dilakukan mulai dari kegiatan operasional internal maupun kegiatan operasional eksternal. Oleh karena itu, seharusnya perusahaan telah mulai menyadari pentingnya operasi internal dan lingkungan yang mendorong pengetahuan di dalam suatu perusahaan. Inovasi yang muncul dari karyawan, serta kemampuan untuk menghasilkan dan merangsang kreativitas dan inovasi. Studi ini mendukung fakta bahwa menunjukkan persepsi karyawan pada kultur organisatoris mempunyai dampak terhadap kinerja karyawan pada dimensi kinerja inovasi. Para organisatoris harus mampu menumbuhkan dan mendukung ide kreatif dan inovasi dari para karyawan sehingga hal itu menjadikan budaya organisasi. Namun kreativitas dan inovatif dapat tumbuh dari siapapun dan di level manapun.
Definisi budaya organisasi sangat luas meliputi semua peraturan, kebiasaan, pola pikir, paradigma, kebijaksanaan dan kebiasaan manajerial yang terkadang tidak sifatnya tidak tertulis. Nilai-nilai budaya yang terkandung dalam organisasi harus tetap terjaga dan terpelihara dengan baik oleh seluruh elemen dalam organisasi.
Ada 3 hal yang dapat menjaga agar inovasi terus berlangsung :
1. Inovasi harus fokus pada masalah bisnis.
2. Memperluas pengaruh-pengaruh formal yang memungkinkan individu untuk memperhatikan masalah dari suatu perspektif yang berbeda.
3. Mengkondisikan lingkungan agar individu dapat memikirkan masalah dan dapat mengkaitkan masalah tersebut dengan tepat.
Oleh karena itu seseorang yang creative enterpreneur sangat dibutuhkan untuk memenuhi berbagai perubahan terutama bila kita kaitkan dengan masalah invoasi dengan dunia bisnis seperti yang diungkapkan di atas, yang mampu ”membaca peta” perubahan yang semakin dinamis dan kompleks sehingga mampu mengantisipasi kemungkinan yang akan dihadapi oleh suatu organisasi.
Permasalahan
Suatu studi empiris telah menunjukkan bahwa bagaimana organisasi yang kreatif dapat berkembang dan menggunakan rutinitas dan proses dalam meningkatkan kemampuan kreatifitasnya. Melalui pendekatan kerangka penyelidikan (exploratory framework) yang berdasar pada teori resource-based dan literatur kreatifitas, telah menunjukkan bahwa pada peran kreatif entrepreneur sebagai komponen kunci dalam mengembangkan kemampuan kreatif organisasi. Untuk membangun kreativitas dan creative actions secara primer yang berfokus pada pemahaman dalam mendeskripsikan tindakan dari kreativitas, sangat dibutuhkan group process dari kreativitas yang dapat mempengaruhi individu dan kelompok dalam organisasi. Disamping itu, kita dapat menggunakan pendekatan organisasional, kreativitas dapat diuji sebagai sumber dari keuntungan kompetitif (competitive advantages), dengan kreativitas ide yang didefinisikan sebagai sesuatu yang baru, tepat dan bernilai.
Perlu dipahami bahwa untuk membangun organisasi yang kreatif, pemimpin tidak dapat dilihat pada sisi entrepreneur saja, tapi juga:
§ Managerial skill
Menghubungkan proses kreativitas dan anggota timnya untuk dapat berhubungan juga dengan lingkungan eksternal. Hal ini menjadi penting dalam memahami trends dan opportunities dan mengidentifikasi serta mengeksploitasi sumber daya yang dapat memperkuat kemampuan kreativitas organisasi.
§ Rutinitas
§ Pendekatan-pendekatan dalam meyakinkan tim berkinerja dengan baik
Menurut Burn dan Stalker (1961), sebenarnya melalui kegiatan yang sifatnya rutin akan menghasilkan kemampuan berkreativitas baik dalam organisasi yang bertipe mekanistik yang cocok pada lingkungan yang stabil, maupun yang bertipe organik yang cenderung sesuai pada lingkungan yang dinamis atau rentan pada perubahan. Studi ini menyarankan bahwa struktur organisasi yang organik memiliki karakteristik yang dapat meningkatkan kemampuan kreativitas organisasi. Inovasi dan kreasi dari produk baru, jasa atau penawaran jaringan (network) dari individual maupun organisasi merupakan bagian aktivitas dari struktur organisasi yang organik. Disamping itu, kemampuan kreatif sebuah organisasi merupakan bagian dari proses dan rutinitas yang tercipta secara berkelajutan dalam mengatasi perubahan lingkungan yang dinamis. Zola dan Winter (2002) mendefinisikan kapabilitas sebagai pembelajaran dan pola yang stabil dari generalisasi sistematisasi sebuah organisasi dalam memodifikasi rutinitas operasionalisasinya menjadi lebih efektif. Pola kolaborasi juga memiliki keberagaman pada lintas hirarkikal, fungsional, dan organisasional boundaries yang berdasar pada sifat natural dari masalah dan tugas sebagai bagian dari bagaimana konteks dan struktur organisasi berdampak pada organisasi tersebut.
Permasalahan yang dihadapi manajer sekarang adalah sulitnya melakukan manajerial proses terhadap pengkreasian pengetahuan. Permasalahan yang dihadapi menurut kondisi, ukuran, dan market konteks organisasi adalah menyeimbangkan kepentingan antara ambisi scientific dengan tujuan organisasi terhadap pengembangan produk. Artikel ini mencoba mengaris bawahi isu bahwa R&D suatu organisasi akan memberikan suatu keuntungan bagi orgainisasi dari aktivitas kreativitas pengetahuan jika aksi individual dan ide berasal dari aktivitas rutin organisasi dan agenda rutin organisasi.
Sedangkan sistem informasi adalah suatu alat yang digunakan untuk pengembangan proses pembentukan ide dan pembelajaran agar mampu mengahsilkan kinerja yang baik. Dalam artikel ini sistem informasi hanya digunakan sebagai stimuli dalam proses pengembangan ide pada individu dalam organisasi. Beberapa model pengembangan ide kreativitas yang telah dikenal yaitu: Model pengembangan kreativitas yang dijelaskan oleh Van Dijk dan Van Den, mengatakan bahawa proses pengembangan kreativitas ide adalah suatu proses mutual dari dua komponen yaitu culture dan struktur yang merupakan lingkungan dari penciptaan pengembangan kreativitas ide. Ide yang timbul di stimuli melaluia proses extraction. Landing, dan follow up. Ketiga fase pengembangan kreativitas ide ini merupkan satu kesatuan yang ada dalam lingkungan organisasi atau dipengaruhi oleh lingkungan organisasi.
Sedangkan model yang dikembangkan oleh hellstrom and hellstrom membagi prose side organisasional menjadi empat factor yaitu induksi ide, jalur, aturan, dan yang terakhir adalah gate control. Model ini menjelaskan bahwa proses pengembangan kreativitas ide mempunyai kemiripan dengan model yang dikembangkan oleh Van Dijk dan Van Den. Kemiripan yang nampak adalah faktor stuktur masih merupakan suatu faktor yang mempengaruhi proses munculnya ide individu dalam organisasi, tetapi pada model Hellstrom dan Hellstrom terdapat rangsangan ide secara emosional dan feedback yang mampu menjadi motivasi individu dalam penciptaan ide. Selain itu aturan yang diterapkan mampu mengatasi permasalahn manajer dalam mengatur kepentingan individu dalam R&D atau scientifi interest dan tujuan organisasi terhadap penciptaan atau pengembangan produk.
Dari dua model yang ada menjelaskan tentang prosespengembangan kreativitas ide merupakan pengeruh dari proses sosial dan tidak hanya berasal dari proses individu saja. Penjelasan tersebut mengakibatkan tidak tampaknya peran dari proses pengembangan individu terhadap munculnya sebuah ide, yang seharusnya proses pengembangan ide seharusnya adalah merupakan proses individu. Sehingga peran artikel ini mencoba menjelaskan bahwa proses pengembangan ide merupakan ekspresi dari individual dan organisasional komitmen dari individu dalam organisasi (R&D). Artikel ini menyetakan bahawa proses pengembangan ide adalah proses negosisasi anatara individu dengan organisasi bukan proses isolasi organisasi terhadap ide yang dimunculkan individu. Sehingga perlu adanya proses sharing informasi antara individu dalam organisasi untuk menemukan ide yang terbaik dan sesuai dengan tujuan dari organsiasi tersebut.
Kesimpulan
Berkembang tidaknya suatu perusahaan tergantung dari kemampuan semua level yang ada dalam organisasi untuk menciptakan ide-ide inovatif, kreatif dan berkelanjutan sebagai manifestasi dari pola pikir, norma, aturan dan budaya serta nilai yang ada dalam organisasi tersebut. Perilaku kreatif yang rutin akan membentuk pola kebiasaan yang pada akhirnya menjadi suatu budaya yang kreatif.
Apapun model atau teori yang disajikan, hanya merupakan suatu acuan yang dijadikan suatu perangsan atas respon untuk suatu perubahan. Organisasi yang baik adalah organisasi yang mampu melakukan perubahan yang disesuaikan dengan kondisi dan lingkungan dengan tetap menjaga nilai-nilai dan budaya yang melekat pada organisasi tersebut.